Minggu, 19 Desember 2010

PERGESERAN NILAI-NILAI RELIGIUS DALAM CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA A.A NAVIS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra identik dengan fiksi yang berarti cerita rekaan yang mengandung imajinasi atau daya khayal. Sastra bersumber dari realita-realita kehidupan di dalam masyarakat. Sebuah sastra mengungkapkan tentang manusia dan kemanusiaan. (Mursal Esten, 1978: 9) menyatakan “kesusastraan adalah merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan mempunyai efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan)”.
Banyak pelajar yang mempertanyakan apa yang dimaksud dengan sastra. Dalam Kamus Umum bahasa Indonesia dinyatakan, (1976: 875) sastra adalah karya kesenian yang diwujudkan dengan bahasa seperti gubahan-gubahan prosa dan puisi yang indah-indah. Indah dimaksudkan bukan hanya bahasa dan irama yang menarik, akan tetapi juga mengacu pada pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Bukankah nilai-nilai dalam karya sastra merupakan hasil ekspresi dan kreasi estetik sastrawan yang ditimba dari kebudayaan masyarakat?
Karya sastra berfungsi sebagai gambaran kehidupan manusia dari generasi ke generasi lain dan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Seorang penulis yang baik akan berusaha mendekati kehidupan dengan menghasilkan karya sastra yang bermakna. Dengan karya sastra pembaca akan memperoleh pemikiran dan pengalaman-pengalaman yang sangat bermanfaat bagi kehidupannya. Oleh sebab itu banyak sekali karya sastra yang mencerminkan kehidupan masyarakat di sekitar kita. Cerpen adalah salah satu contoh diantara sekian banyak karya sastra saat ini. Masih dalam (Mursal Esten, 1978: 12) “cerpen merupakan pengungkapan suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Dari padanya tidak dituntut terjadinya suatu perobahan nasib dari pelaku-pelakunya. Hanya suatu lintasan dari secercah kehidupan manusia yang terjadi pada satu kesatuan waktu”.
Pernyataan di atas sejalan dengan (Sumito A. Sayuti, 1996: 6), “cerpen merupakan fiksi yang dibaca selesai sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca. Dengan kata lain, sebuah kesan tunggal dapat diperoleh dalam sebuah cerpen dalam sekali baca”. Misalnya membaca cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis muncul kesan yang mendalam bagi penulis akan adanya pergeseran nilai-nilai religius dalam masyarakat. Masalah ini menarik untuk dikemukakan.
Adapun alasan penulis mengangkat masalah ini karena cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis sudah populer dan dipelajari dikalangan masyarakat pelajar. Terbukti cerpen ini telah mengalami beberapa kali cetak ulang, mulai dari cetakan pertama tahun 1986, sampai cetakan ke dua belas tahun 2005. Selain itu adanya program pemerintah Sumatera Barat yaitu “Babaliak ka Nagari” yang berarti juga kembali ke surau erat kaitannya dengan pesan-pesan religius yang terkandung dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis.
Dengan latar belakang fenomena-fenomena di atas penulis merasa tertarik mengadakan penelitian tentang unsur ekstrinsik dalam cerpen “Robohnya Surau kami”. Penelitian difokuskan pada pergeseran nilai-nilai relegius pada masyarakat yang terdapat dalam cerpen tersebut. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori deskriptif.
1.2 Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah
Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis banyak hal yang bisa diteliti. Seperti unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Namun dalam penelitian ini penulis fokuskan pada unsur ekstrinsik berupa pergeseran nilai-nilai religius. Berdasarkan pemfokusan masalah ini, maka dirumuskan permasalahan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
(1) Apakah ada nilai-nilai religius pada cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis?
(2) Apa saja penyimpangan nilai-nilai religius yana ada pada cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulis melakukan penelitian ini tidaklah jauh berbeda dari pembatasan masalah dan perumusan masalah di atas. Oleh sebab itu penulis membagi pada dua tujuan sebagai berikut:
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pergeseran nilai-nilai religiusyang terdapat pada cerpen “ Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis.
1.3.2 Tujuan Khusus
(1) untuk mengetahui nilai-nilai religius pada cerpen “ Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis
(2) untuk mengetahui sejauh mana pergeseran nilai-nilai religius pada cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis
1.4 Manfaat Penelitian
Hal yang didapat dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia disekolah-sekolah. Baik sebagai siswa SLTP maupun siswa SLTA. Pembahasan ini juga diharapkan bisa menjadi pedoman dalam pembelajaran tentang nilai-nilai keagamaan.Selain untuk kepentingan diatas, mudah-mudahan pesan-pesan keagamaan yang disampaikan A.A. Navis dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” dapat menggugah hati pembaca tentang perilaku manusia dalam kehidupan selaku umat mausia.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PERTANYAAN PENELITIAN
2.1 Kajian Teori
Nilai menurut ( KUBI, 1986: 677 ) merupakan sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, misalnya nilai-nilai agama yang perlu kita indahkan.
Kata religius berasal dari kata religion yang artinya agama. Menurut ( KUBI, 1986: 18 ) agama adalah segenap kepercayaan ( kepada tuhan, dewa ) serta dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.
Dari kedua pernyataan di atas penulis menyimpulkan bahwa nilai-nilai religius adalah ukuran sifat-sifat yang berguna bagi kemanusiaan dan berhubungan dengan kepercayaan serta dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan sebuah kepercayaan.
Cerpen merupakan fiksi yang selesai dibaca sekali duduk. Dalam artian sebuah kesan di dalam cerpen dapat ditemukan dalam sekali baca. ( Alam dan Mien Rumini, 1996: 1 ) mengatakan cerpen adalah cerita yang pada hakikatnya merupakan salah satu wujud pernyataan seni yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Pernyataan ini seirama dengan ( Esten, 1978: 12 ) cerpen merupakan pengungkapan suatu kesan yang hidup dari fragmen kehidupan manusia. Maksudnya, cerita dalam cerpen hanyalah sebagian kecil penggalan hidup manusia. Berbeda dengan roman yang menceritakan dari awal kehidupan hingga akhir hayat tokoh-tokohnya.
Nilai religius dalam cerpen atau sastra juga bisa disebut dengan fiksi religius.
( Amris, : 87 ) menyatakan fiksi religius adalah fiksi yang dengan sadar menghubungkan tradisi keagamaan dengan tradisi sastra. Diantara sastrawan ada yang dengan sengaja menggunakan penghayatan dan pengalaman estetik untuk mencapai Tuhan. Yang pada puncaknya mencapai kualitas religius dan mistis karena menyentuh dunia spiritual.
Artinya pengarang dengan sadar menggabungkan kebiasaan dalam kehidupan beragama dengan kebiasaan-kebiasaan dalam dunia sastra. Seperti seorang pengarang yang melakukan penghayatan-penghayatan yang ia miliki dengan nilai-nilai moral yang berlaku dilingkungannya.
2.2 Nilai-nilai Religius dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami”
Seperti halnya CERPEN “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis banyak mengandung nilai-nilai religius yang mencerminkan perilaku atau sikap umat Islam dalam hidup bermasyarakat. Ada beberapa nilai-nilai religius yang digambarkan A.A Navis dalam cerpennya “Robohnya Surau kami” antara lain:
(1) ketaatan tokoh kakek dalam beribadah,
(2) ketakutan tokoh kakek melakukan sesuatu yang dapat merusak ibadahnya,
(3) sifat sabar dan tawakal dari tokoh kakek,
(4) sifat ikhlas yang dimiliki tokoh kakek terlihat dalam keredhoannya membantu mengasah pisau tanpa mengharapkan upah,
(5) adanya penghitungan dosa dan pahala manusia di akhirat,
(6) masuknya orang-orang yang berat amal kebajikannya kedalam surga dan sebaliknya, orang-orang yang berat dosanya kedalam neraka,
(7) haji Soleh selalu menghentikan larangan Alla dengan tidak pernah berbuat jahat,
(8) keyakinan Haji soleh dalam berdo’a dengan selalu menyebut nama Allah.
2.3 Sumber Nilai-Nilai Religius dalam Islam
Dalam sub-bab ini penulis akan memaparkan tentang nilai-nilai religius dalam Islam, yang dikutip dari dalam al-qur’an dan hadist nabi, antara lain:
(1) perintah menjadikan surau untuk tempat beribadah ( Al-Qur’an: An-Nissa’ 9 ),
(2) larangan membual ( Al-Qur’an: Al-Hujarat 6 ),
(3) perintah untuk menikah ( Al-Qur’an: Al-Juma’ah 10 )Larangan menyombongkan diri ( Al-Qur’an: Al-A’raf 146 ),
(4) perintah untuk berusaha di dunia dan di akhirat ( Al-Qur’an: AL-Qassas 77, Hadis nabi pilihan ),
(5) persaudaraan bagi sesama muslim ( Al-Qur’an: Al-Hujarat 10),
(6) menjaga diri dari azab neraka ( Al-Qur’an: At-Tahrim 6 ),
(7) larangan melakukan bunuh diri ( Al- Qur’an: Fatir 5 ).
2.4 Pergeseran Nilai Religius dalam Cerpen “ Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis.
Berdasarkan analisa penulis, atas sumber nilai religius dalam Islam maka ditemukan beberapa pergeseran nilai-nilai tersebut dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis, antara lain:
(1) surau tidak difungsikan, anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain berbagai macam kesukaan, dan perempuan sering mencopoti papan atau lantai di malam hari untuk dijadikan kayu bakar. Bersikap masa bodoh dan tidak memelihara sebagai mana mestinya,
(2) pembual ( Bualan Ajo Sidi tentang kejadian di neraka membuat si kakek akhirnya muram dan akhirnya bunuh diri ),
(3) seorang laki-laki tidak menikah dan hanya mengabdikan hidupnya sepanjang hari di surau tanpa memikirkan hidup duniawi harta ataupun kekayaan,
(4) sombong dan suka membanggakan diri,
(5) taat beribadah saja, membiarkan negara kacau balau, melarat, hasil bumi dikuasai negara lain tanpa memikirkan kehidupan anak cucu, pemalas dan tidak mau bekerja,
(6) hanya mementingkan diri sendiri, tidak memikirkan kehidupan berkaum, bersaudara, dan tidak peduli,
(7) melakukan perbuatan sesat dengan cara bunuh diri,
(8) tidak ikut melayat orang yang meninggal akibat bualan kita, hanya berpesan agar dibelikan kain kafan 7 lapis sedangkan kita tetap pergi bekerja.
2.5 Pertanyaan Penelitian
Tabel I
Rangkuman Peristiwa Dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” A.A Navis
No Masalah Peristiwa Halaman
1. Nilai-nilai Religius 1. ketaatan beribadah
2. Sifat sabar dan tawakal
3. Keikhlasan
4. perhitungan dosa dan pahala manusia 1
4
2
6
2. Pergeseran Nilai-nilai religius 1. Surau tidak difungsikan dengan benar
2. Membual
3. Tidak menikah
4. Keangkuhan
5. Melakukan bunuh diri 2
3
5
6
15
2.6 Sinopsis Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A. Navis
Cerpen ini diawali dengan sebuah kejadian di sebuah surau antara tokoh kakek dengan Ajo Sidi seorang pembual. Ia membual kepada kakek tentang kehidupan akhirat saat Tuhan memeriksa amalan baik dan buruk manusia. Dalam bualannya itu muncul seorang tokoh yang bernama Haji Saleh. Haji saleh adalah seorang warga Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah saja. Ia biarkan hidupnya melarat, hingga anak cucunya teraniaya.
Dalam cerpen ini Tuhan mengatakan “ ia memberikan negeri yang kaya raya, akan tetapi Haji Saleh membiarkan kekayaan itu hingga orang lain mengambil untuk anak cucu mereka. Sedangkan orang-orang di Indonesia lebih suka berkelahi dengan sesama mereka, saling menipu, dan juga saling memeras”.
Tuhan memerintahkan untuk beribadah dan juga beramal. Akan tetapi Haji saleh hanya beribadah saja. Disini haji saleh telah miskin. Karena harta kekayaan yang ia miliki telah ia biarkan diambil oleh orang lain untuk kelangsungan hidup anak cucu mereka nantinya. Jadi manamungkin bisa Haji Saleh beramal sedangkan ia sendiri tidak mampu. Karena hal itulah pada akhirnya Haji Saleh masuk neraka.
Hal yang dilakukan Haji Saleh semasa hidup tidak berbeda dengan hal yang dikerjakan oleh tokoh kakek, yang merupakan tokoh utama dalam cerpen ini. akibat dari bualan Ajo Sidi maka terjadilah konflik batin pada diri kakek. Kakek selalu dihantui rasa takut akan masuk neraka. Hal itu yang akhirnya membuat tokoh kakek meng akhiri kehidupannya dengan cara bunuh diri.
BAB III
METODE DAN DESAIN PENELITIAN
3.1 Metode dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Penelitian dimulai dari pengumpulan data, mengklasifikasi data, sampai kepada pembuatan laporan. Maka dalam penelitian ini peneliti akan mendeskripsi tentang pergeseran nilai-nilai religius dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Ditinjau dari sosiologi data. Data dikumpulkan kemudian dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan umum.
3.2 Instrumen Penelitian
Tabel II
Tokoh-Tokoh dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis
No Tokoh Tindakan Penyimpangan
1. Kakek 1. Tidak memiliki Istri.
2. Bunuh diri 1. Di dalam islam bagi pemuda yang sudah mapan diperintahkan untuk segera menikah.
2. Bunuh diri adalah salah satu hal yang dilaknat Allah SWT.
2. Ajo Sidi 1. Pembual
2. Tidak ikut melayat orang yang meninggal akibat bualannya. 1. membual sangat dilarang agama karena terkatang dapat membuat orang menjadi sedih.
2. Dalam islam melayat sangat dianjurkan. Untuk memperkuat ukhuwah.
3 Haji Saleh Sombong, mementingkan diri sendiri, dan pemalas Sombong, mementingkan diri sendiri, dan pemalas adalah sifat tercela yang dilaknat Allah
4 Masyarakat Anak-anak bermain di surau, dan para perempuan mencopoti papan untuk dijadikan kayu bakar. Seharusnya surau digunakan untuk beribadah seperti Al-Qur’an surat An-Nissa’ ayat 9
3.3 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik observasi. Data dikumpulkan dengan teknik telaah teks dan telaah kepustakaan. Karena penulis tidak melakukan penelitian, akan tetapi mengumpulkan dari buku- buku yang telah ada.
Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penggolongan data adalah:
(1) mengumpulkan data dalam karya sastra dengan mencari permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan pergeseran nilai-nilai religius di dalam cerpen. Yang tampak dari perilaku tokoh-tokoh cerita,
(2) mengidentifikasi masalah-masalah tersebut,
(3) menganalisa hubungan permasalahan yang telah di identifikasi dengan nilai-nilai religius dalam Islam,
(4) menyimpulkan dan melaporkan.
3.4 Prosedur Penelitian
Sebagai mana telah dijelaskan pada bahagian teknik analisis data bahwa penulis tidak melakukan penelitian tetapi hanya melakukan teknik telaah teks dan telaah kepustakaan, maka dengan teknik itulah penulis dapat mewujudkan karya tulis ini. oleh sebab itu penulis mengurutkan prosedur penelitian dimulai dari
(1) membaca cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis,
(2) mengidentifikasi pergeseran nilai-nilai religius yang ada,
(3) menemukan bukti-bukti mengenai pergeseran nilai-nilai Religius yang ada,
(4) deskripsi mengenai nilai-nilai religius yang ada,
(5) hasil identifikasi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Cerpen karya A.A Navis, yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah cerpen “Robohnya Surau Kami” cetakan ke dua belas 2005, terdiri dari 13 halaman. Cerpen tersebut diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Cerpen ini ditulis oleh A.A Navis, sastrawan yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra indonesia. Dan pemikirannya yang kritis dapat dijadikan otokritik bagi pemeluk agama-agama di dunia umumnya, di indonesia khususnya.
Untuk membicarakan pergeseran nilai-nilai religius dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, tersebut maka akan dibahas sebagai berikut:
4.1 Struktur cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A Navis
Cerpen ini disajikan A.A Navis dalam alur mundur (Flash Back). Karena pengarang dalam cerpen ini mengatakan “ Kalau beberapa tahun yang lalu tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, tuan akan berhenti didekat pasar “. Atas dasar itulah penulis mengatakan cerpen ini beralur mundur. Penyajian dengan cara ini dapat menggugah rasa keingin tahuan dari pembaca cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis. Dan hal ini menarik dan menimbulkan rasa penasaran sipembaca akan kelanjutan ceritanya.
Latar dalam cerita ini adalah sebuah kampung yang sudah tidak terlalu mempertahankan keasliannya. Terbukti dengan berubahnya fungsi surau yang semula sebagai tempat ibadah berubah menjadi tempat bermain bagi anak-anak. Dan para perempuan sering mencopoti papan untuk dijadikan kayu bakar. Sehingga surau inilah yang menjadi pusat latar dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”. Karena seluruh kejadian-kejadian terjadi di sekitar surau itu.
Padahal pada masa lalu surau itu adalah tempat beribadah dan tempat mengaji bagi anak-anak. Surau itu cukup terawat karena ada seorang kakek yang menjadi garim di sana. “Didepannya ada kolam ikan yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi”. Akan tetapi semua itu hanya tinggal kenangan. Seiring dengan kepergian si kakek menghadap sang pencipta surau itupun berangsur kropos tidak terawat.
A.A Navis menyajikan cerpen “Robohnya Surau Kami” dengan memperlihatkan kesan realitas dari isi cerita. Dalam hal ini penulis menempatkan tokoh kakek sebagai tokoh utama. Adapun alasan penulis mengngkat kaek sebagai tokoh utama karena tokoh kakeklah yang memang banyak diceritakan dalam cerpen ini. Tokoh-tokoh dalam cerpen ini masih dengan cara berfikir kuno. Contohnya tokoh-tokoh dalam cerpen ini yang masih mudah percaya pada cerita-cerita fiksi. Seperti halnya tokoh kakek yang pada akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara menggoroh lehernya dengan pisau cukur hanya karena terpengaruh bualan-bualan Ajo Sidi.
Cerpen “Robohnya Surau Kami” menceritakan konflik batin yang dialami tokoh kakek, yaitu setelah mendengar cerita Ajo Sidi tentang kehidupan di akhirat nanti, Ketika Allah dan para Malaikat-Nya memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Salah seorang diantara orang-orang yang diperiksa adalah Haji Saleh. Segala sifat dan hal-hal yang ia perbuat di dunia mirip dengan sifat dan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh kakek. Dan hal ini lah yang paling mendasari konflik batin bagi tokoh kakek.
Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah subahanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? (Robohnya Surau Kami: 5)
Konflik batin ini terlihat pertama kali oleh pengarang sebagai tokoh aku ketika mengunjungi tokoh kakek hendak mengupah pisau. Tokoh aku merasa heran karena kakek menyambutnya dengan wajah muram tidak seperti biasanya yang apabila tokoh aku datang kakek menyambutnya dengan senyuman. Tergambar pada kutipan berikut ini. “tapi sekali ini kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya”. (Robohnya Surau Kami: 3)
Di pandang dari tokoh Ajo Sidi, Ia adalah tokoh lain yang cukup berperan untuk cerita ini. sifatnya yang suka membual membuat ia cukup berpengaruh dalam cerita ini. Ajo Sidi selalu berhasil meyakinkan orang-orang disekitarnya dengan bualan-bualannya. Bualannya cukup menarik dan susah disangkal kebenarannya seperti dikatakan tokoh aku.
Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritannya menjadi pameo akhirnya. (Robohnya Surau Kami: 3)
Selanjutnya tokoh yang cukup menarik dalam cerita ini adalah haji saleh. Karena ia merupakan metafor dari tokoh kakek. Haji Saleh memiliki sifat percaya diri yang tinggi. Sehingga menyebabkan munculnya sifat angkuh dati tokoh. Seperti pada kutipan “ Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan selamat bertemu nanti “(Robohnya Surau Kami: 6 )
Kutipan di atas menjelaskan sifat angkuh dari tokoh Haji Saleh. Bukan hanya angkuh masih banyak lagi sifat tercela yang dimiliki Haji Saleh, yang pada akhirnya mengakibatkan Haji Saleh masuk kedalam neraka.
Begitulah gambaran dari masing-masing tokoh dalam cerpen “Robohnya surau Kami” karya A.A Navis. Yang menampilkan karakter dan tindakan yang membawa pergeseran nilai-nilai religius.
4.2 Nilai-Nilai Religius dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A Navis
Ketaatan tokoh kakek dalam beribadah, yang diceritakan dalam cerpen ini. Tergambar pada kutipan “dan dipelantaran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek”(Robohnya Surau Kami: 1)
Berdasarkan kutipan diatas, Navis telah meperlihatkan penokohan secara langsung (analitik) dari tokoh kakek yang suka duduk sendiri dengan tingkah ketuaannya dan ketaatannya dalam beribadat. Keikhlasan yang dimiliki Kakek tampak dari kutipan “orang-orang suka meminta tolong kepadanya, sedangkan ia tak pernah meminta imbalan apa-apa” (Robohnya Surau Kami: 2)
Sifat sabar dan tawakal yang dimiliki tokoh kakek dilihat dari kutipan berikut:
Sudah lama aku tidak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diriku kepada-Nya. Dan tuhan akan mengasihi orang-orang yang bertawakal. (Robohnya Surau Kami: 4)
Dari kutipan diatas terlihat jelas perasaan takut kakek akan rusaknya amalan-amalan dan ibadah-ibadah yang telah ia lakukan selama ini. Ia hanya menyerahkan hidupnya dengan bertawakal kepada Tuhan.
Di akhirat nanti akan ada perhitungan dosa manusia dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” tergambar dari kutipan “ di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia” (Robohnya Surau Kami: 6)
Haji Saleh tokoh dalam cerpen ini menggambarkan nilai-nilai religius berupa ketaatannya kepada Allah dengan menghentikan laranga-larang Allah. Terlihat dari kutipan “ segala tegah-Mu kuhentikan, tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu”. (Robohnya Surau Kami: 7)
4.3 Pergeseran Nilai-Nilai Religius dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A Navis
4.3.1 Surau Tidak difungsikan dengan Benar
Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” terdapat perubahan fungsi surau yang semula digunakan sebagai tempat beribadah. Namua sekarang surau digunakan untuk tempat bermain bagi anak-anak, terlihat dari kutipan
Tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan diding atau lantai pada malam hari (Robohnya Surau Kami: 2)
padahal dalam islam surau adalah tempat beribadah dan tempat belajar segala ilmu keagamaan bagi anak-anak. Sesuai dengan firman Allah surat An-nisa’: 9
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An-nissa’: 9)
Maksud dari arti surat diatas adalah surau merupakan tempat untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Maka kewajiban orang-orang yang beriman untuk menghidupkan dan memelihara surau. Dengan cara membimbing anak-anak untuk menggunakan surau sebagai tempat beribadah dan tempat belajar.
4.3.2 Membual
Membual adalah salah satu pergeseran nilai-nilai religius yang tampak dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis. Tergambar dari kutipan “ Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku sengan mendengar bualannya” (Robohnya Surau Kami: 3). Dalam islam membual ataupun mempercayai bualan adalah sebuah dosa. Sesuai firman Allah surar Al Hujurat: 6 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Qs. Al Hujurat: 6)
Maksud dari ayat diatas adalah berupa larangan untuk menerima cerita-cerita yang tidak berlandasan. Apalagi mengakibatkan konflik batin seseorang dan akhirnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
4.3.3 Seorang Laki-Laki Tidak Menikah
Adapun laki-laki yang dimaksud penulis disini adalah laki-laki yang sudah mapan karena dalam Islam apabila seorang laki-laki sudah mapan maka ia dianjurkan untuk segera menikah. Pergeseran nilai-nilai disini terlihat dari tokoh kakek. Dapat dilihat dari kutipan “ sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikir hidupku sendiri” (Robohnya Surau Kami: 5)
4.3.4 Keangkuhan
Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” terdapat sifat angkuh dipandang dari toloh Haji Saleh. Terlihat dalam kutipan “ Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan dipinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk”. (Robohnya Surau Kami: 6)
Dari kutipan diatas tergambarlah keangkuhan dari Haji Saleh . Angkuh termasuk sifat tercela yang dilarang dalam islam. Hadist nabi
Orang-orang yang sombong itu akan dibangkitkan dihari kiamat seperti semut dalam rupa manusia mereka ditimpa kehinaan dimana saja mereka berada” ( Tafsir Prof. Dr. Mahmud Yunus).
Hadist diatas diperkuat dengan firman Allah surat Al A’raf: 146
Artinya: Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.
Hadist dan ayat di atas menjelaskan betapa hinannya orang-orang yang menyombongkan diri di akhirat kelak. Dan apa hukuman yang akan mereka terima di akhirat nanti.
4.3.5 Mengakhiri Hidup Dengan Cara Bunuh Diri
“ Tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur” (Robohnya Surau Kami: 13). Kutipan di atas menggambarkan pergeseran nilai-nilai religius dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” Karya A.A Navis. Bunuh diri adalah hal yang hina dalam islam. Pernyataan ini sejalan dengan firman Allah surat faathir: 5, yang artinya
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS. faathir: 5)
Ayat diatas menerangkan bahwa bahwa janganlah kehidupan dunia membuat kamu lupa akan adanya akhirat. Karena janji Allah temtang kematian itu adalah pasti. Lahir, rezeki, dan kematian itu adalah ketentuan Allah.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Setelah dideskripsikan dan dijelaskan pergeseran nilai-nilai religius dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis. Maka simpulan yang dapat penulis ambil adalah sebagai berikut:
1. Ditemukan beberapa nilai-nilai religius dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis, seperti
a. ketaatan tokoh kakek dalam beribadah,
1. ketakutan tokoh kakek melakukan sesuatu yang dapat merusak ibadahnya,
2. sifat sabar dan tawakal dari tokoh kakek,
3. sifat ikhlas yang dimiliki tokoh kakek terlihat dalam keredhoannya membantu mengasah pisau tanpa mengharapkan upah,
4. adanya penghitungan dosa dan pahala manusia di akhirat,
5. masuknya orang-orang yang berat amal kebajikannya kedalam surga dan sebaliknya, orang-orang yang berat dosanya kedalam neraka,
6. haji Soleh selalu menghentikan larangan Allah dengan tidak pernah berbuat jahat.
7. Pendeskripsian nilai-nilai religius dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, dibandingkan dengan nilai-nilai religius dalam islam ternyata terdapat beberapa pergeseran nilai-nilai. Bentuk-bentuk pergeseran itu sebagai berikut:
a. surau tidak difungsikan, anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain berbagai macam kesukaan, dan perempuan sering mencopoti papan atau lantai di malam hari untuk dijadikan kayu bakar. Bersikap masa bodoh dan tidak memelihara sebagai mana mestinya,
1. pembual ( Bualan Ajo Sidi tentang kejadian di neraka membuat si kakek akhirnya muram dan akhirnya bunuh diri ),
2. seorang laki-laki tidak menikah dan hanya mengabdikan hidupnya sepanjang hari di surau tanpa memikirkan hidup duniawi harta ataupun kekayaan,
3. sombong dan suka membanggakan diri (Angkuh),
4. taat beribadah saja, membiarkan negara kacau balau, melarat, hasil bumi dikuasai negara lain tanpa memikirkan kehidupan anak cucu, pemalas dan tidak mau bekerja
5. hanya mementingkan diri sendiri, tidak memikirkan kehidupan berkaum, bersaudara, dan tidak peduli,
6. melakukan perbuatan sesat dengan cara bunuh diri.
5.2 Saran
Setelah dilakukan telaah kepustakaan dan telaah teks maka peneliti menyarankan:
(1) Bagi seluruh penikmat sastra tidak seluruh nilai-nilai estetik dalam karya sastra baik. Oleh sebab itu penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan.
(2) Bagi guru Bahasa Indonesia agar menyarankan siswanya untuk membaca karya sastra karena baik untuk menambah wawasan.
(3) Bagi para pelajar agar dapat menggunakan penelitian ini sebagai pedoman untuk memahami karya sastra terutama cerpen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar